Kode Etik Profesi Hakim

Pendahuluan

images   Menurut Dr. James J. Spillane SJ, Ethics atau etika memperhatikan atau mempertimbangkan tingkah laku manusia dalam pengambilan keputusan moral. Etika mengarah atau menghubungkan penggunaan akal budi individual dengan objektivitas untuk menentukan kebenaran atau kesalahan dan tingkah laku seseorang terhadap orang lain.

Setiap bidang profesi mempunyai nilai-nilai yang merupakan pedoman dalam prikehidupan profesi yang bersangkutan. Demikianlah, pada lingkungan profesi hakim Indonesia, dimana kode etik profesi hakim Indonesia, didasarkan pada nilai-nilai yang berlaku di indonesia walaupun tentunya juga mengandung nilai-nilai yang bersifat universal bagi hakim sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman. Profesi hakim adalah profesi yang merdeka guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila demi terselenggaranya negara hukum Republik Indonesia. Di sini terkandung nilai kemerdekaan dan keadilan.
Kode Etik Profesi Hakim Indonesia pertama kali disusun oleh Ikatan Hakim Indonesia (IKAHI) pada Kongres III IKAHI tanggal 5-7 April 1965. Seiring berjalannya waktu, perkembangan berbagai hal seputar IKAHI sebagai wadah profesi hakim dan Kode Etik Profesi Hakim Indonesia terus berlangsung. Dan yang paling terkini adalah ketika MA menerbitkan Pedoman Perilaku Hakim bersamaan dengan disosialisasikannya Pedoman Etika Perilaku Hakim yang disusun KY, sehingga peristiwa ini menjadi bagian dari ketidaksepahaman antara MA dan KY.

Maksud Dan Tujuan

Pasal 2

Kode Etik Profesi Hakim mempunyai maksud dan tujuan :

  1. Sebagai alat :
    1. Pembinaan dan pembentukan karakter Hakim
    2. Pengawasan tingkah laku Hakim
  2. Sebagai sarana :
    1. Kontrol sosial
    2. Pencegah campur tangan ekstra judicial
    3. Pencegah timbulnya kesalah pahaman dan konflik antar sesama anggota dan antara anggota dengan masyarakat.
  3. Memberikan jaminan peningkatan moralitas Hakim dan kemandirian fungsional bagi Hakim.
  4. Menumbuhkan kepercayaan masyarakat pada lembaga peradilan.

SIfat-Sifat Hakim

Pasal 3

Sifat Hakim tercermin dalam lambang Hakim yang dikenal dengan “Panca Dharma Hakim” :

  1. Kartika, yaitu memiliki sifat percaya dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
  2. Cakra, yaitu sifat mampu memusnahkan segala kebathilan, kezaliman dan ketidakadilan.
  3. Candra, yaitu memiliki sifat bijaksana dan berwibawa.
  4. Sari, yaitu berbudi luhur dan berkelakuan tidak tercela.
  5. Tirta, yaitu sifat jujur.

Sikap Hakim

Pasal 4

Setiap Hakim Indonesia mempunyai pegangan tingkah laku yang harus dipedomaninya :

Dalam persidangan :

  1. Bersikap dan bertindak menurut garis-garis yang ditentukan dalam Hukum Acara yang berlaku, dengan memperhatikan azas-azas peradilan yang baik, yaitu :
  • Menjunjung tinggi hak seseorang untuk mendapat putusan (right to a decision) dimana setiap orang berhak untuk mengajukan perkara dan dilarang menolak untuk mengadilinya kecuali ditentukan lain oleh Undang-undang serta putusan harus dijatuhkan dalam waktu yang pantas dan tidak terlalu lama.
  • Semua pihak yang berperkara berhak atas kesempatan dan perlakuan yang sama untuk didengar, diberikan kesempatan untuk membela diri, mengajuan bukti -bukti serta memperoleh informasi dalam proses pemeriksaan (a fair hearing).
  • Putusan dijatuhkan secara obyektif tanpa dicemari oleh kepentingan pribadi atau pihak lain (no bias) dengan menjunjung tinggi prinsip (nemo judex in resud).
  • Putusan harus memuat alasan-alasan hukum yang jelas dan dapat dimengerti serta bersifat konsisten dengan penalaran hukum yang sistematis (reasones and argumentations of decision), dimana argumentasi tersebut harus diawasi (controleerbaarheid) dan diikuti serta dapat dipertanggung-jawabkan (account ability) guna menjamin sifat keterbukaan (transparancy) dan kepastian hukum (legal certainity) dalam proses peradilan
  1. Tidak dibenarkan menunjukkan sikap memihak atau bersimpati ataupun antipati kepada pihak-pihak yang berperkara, baik dalam ucapan maupun tingkah laku.
  2. Harus bersifat sopan, tegas dan bijaksana dalam memimpin sidang, baik dalam ucapan maupun dalam perbuatan.
  3. Harus menjaga kewibawaan dan kehidmatan persidangan antara lain serius dalam memeriksa, tidak melecehkan pihak-pihak baik dengan kata-kata maupun perbuatan.
  4. Bersungguh-sungguh mencari kebenaran dan keadilan.

Terhadap Sesama Rekan :

  1. Memiliki rasa setia kawan, tenggang rasa dan saling menghargai antara sesama rekan.
  2. Memiliki kesadaran, kesetiaan, penghargaan terhadap Korps Hakim secara wajar.
  3. Menjaga nama baik dan martabat rekan, baik di dalam maupun di luar kedinasan.

Terhadap Bawahan/Pegawai :

  1. Harus mempunyai sifat kepemimpinan.
  2. Membimbing bawahan/pegawai untuk mempertinggi pengetahuan.
  3. Harus mempunyai sikap sebagai seorang Bapak/lbu yang baik.
  4. Memelihara sikap kekeluargaan terhadap bawahan/pegawai.
  5. Memberi contoh kedisiplinan.

Terhadap Masyarakat :

  1. Menghormati dan menghargai orang lain.
  2. Tidak sombong dan tidak mau menang sendiri.
  3. Hidup sederhana.
  4. Terhadap Keluarga/Rumah Tangga
  5. Menjaga keluarga dari perbuatan-perbuatan tercela, menurut norma-norma hukum kesusilaan.
  6. Menjaga ketentraman dan keutuhan keluarga.
  7. Menyesuaikan kehidupan rumah tangga dengan keadaan dan pandangan masyarakat.

Terhadap Keluarga/Rumah Tangga :

  1. Menjaga keluarga dari perbuatan-perbuatan tercela, menurut norma-norma hukum kesusilaan.
  2. Menjaga ketentraman dan keutuhan keluarga.
  3. Menyesuaikan kehidupan rumah tangga dengan keadaan dan pandangan masyarakat.

Kewajiban Dan Larangan :

Pasal 5

Kewajiban :

  1. Mendengar dan memperlakukan kedua belah pihak berperkara secara berimbang dengan tidak memihak (impartial).
  2. Sopan dalam bertutur dan bertindak.
  3. Memeriksa perkara dengan arif, cermat dan sabar.
  4. Memutus perkara, berdasarkan atas hukum dan rasa keadilan.
  5. Menjaga martabat, kedudukan dan kehormatan Hakim.

Larangan :

  1. Melakukan kolusi dengan siapapun yang berkaitan dengan perkara yang akan dan sedang ditangani.
  2. Menerima sesuatu pemberian atau janji dari pihak-pihak yang berperkara.
  3. Membicarakan suatu perkara yang ditanganinya diluar acara persidangan.
  4. Mengeluarkan pendapat atas suatu kasus yang ditanganinya baik dalam persidangan maupun diluar persidangan mendahului putusan.
  5. Melecehkan sesama Hakim, Jaksa, Penasehat Hukum, Para pihak Berperkara, ataupun pihak lain.
  6. Memberikan komentar terbuka atas putusan Hakim lain, kecuali dilakukan dalam rangka pengkajian ilmiah.
  7. Menjadi anggota atau salah satu Partai Politik dan pekerjaan/jabatan yang dilarang Undang-undang.

Komisi Kehormatan Dan Profesi Hakim :

Pasal 6

  1. Susunan dan Organisasi Komisi Kehormatan Profesi Hakim terdiri dari :
    1. Komisi Kehormatan Profesi Hakim Tingkat Pusat.
    2. Komisi Kehormatan Profesi Hakim Tingkat Daerah.
  2. Komisi Kehormatan Profesi Hakim Tingkat Pusat terdiri dari 5 (lima) orang dengan susunan :
    1. Ketua : salah seorang Ketua Pengurus Pusat IKAHI merangkap anggota.
    2. Anggota : Dua orang anggota IKAHI dari Hakim Agung.
    3. Anggota : Salah seorang Ketua Pengurus Daerah IKAHI yang bersangkutan.
    4. Sekretaris : Sekretaris Pengurus Pusat IKAHI merangkap Anggota.
  3. Komisi Kehormatan Profesi Hakim Tingkat Daerah terdiri dari 5 (lima) orang dengan susunan :
    1. Ketua : Salah seorang Ketua Pengurus Daerah IKAHI merangkap anggota.
    2. Anggota : Seorang anggota IKAHI Daerah dari Hakim Tinggi.
    3. Anggota : Ketua Pengurus Cabang IKAHI yang bersangkutan.
    4. Anggota : Seorang Hakim yang ditunjuk Pengurus Cabang IKAHI yang bersangkutan.
    5. Sekretaris : Sekretaris Pengurus Daerah IKAHI merang kap Anggota.
  4. Komisi Kehormatan Profesi Hakim Tingkat Pusat diangkat dan diberhentikan oleh PP IKAHI.
  5. Komisi Kehormatan Profesi Hakim Tingkat Daerah diangkat dan diberhentikan oleh PD IKAHI.

Pasal 7

  1. Komisi Kehormatan Hakim Tingkat Daerah berwenang memeriksa dan mengambil tindakan-tindakan lain yang menjadi kewenangan terhadap anggota di daerah/wilayahnya.
  2. Komisi Kehormatan Profesi Hakim Tingkat Pusat berwenang memeriksa dan mengambil tindakan-tindakan lain yang menjadi kewenangannya terhadap persoalan yang tidak dapat diselesaikan oleh Daerah atau yang menurut Pengurus Pusat IKAHI harus ditangani oleh Komisi Kehormatan Profesi Hakim Tingkat Pusat.

Tugas Dan Wewenang

Pasal 8

  1. Komisi Kehormatan Profesi Hakim mempunyai tugas :
    1. Memberikan pembinaan pada anggota untuk selalu menjunjung tinggi Kode Etik.
    2. Meneliti dan memeriksa laporan/pengaduan dari masyarakat atas tingkah laku dari para anggota IKAHI.
    3. Memberikan nasehat dan peringatan kepada anggota dalam hal anggota yang bersangkutan menunjukkan tanda-tanda pelanggaran Kode Etik.
  2. Komisi Kehormatan Profesi Hakim berwenang :
    1. Memanggil anggota untuk didengar keterangannya sehubungan dengan adanya pengaduan dan laporan.
    2. Memberikan rekomendasi atas hasil pemeriksaan terhadap anggota yang melanggar Kode Etik dan merekomendasikan untuk merehabilitasi anggota yang tidak terbukti bersalah.

Sanksi

Pasal 9

Sanksi yang dapat direkomendasikan Komisi Kehormatan Profesi Hakim kepada PP IKAHI adalah :

  1. Skorsing dari keanggotaan IKAHI.
  2. Pemberhentian sebagai anggota IKAHI.

Pemeriksaan

Pasal 10

  1. Pemeriksaan terhadap anggota yang dituduh melanggar Kode Etik dilakukan secara tertutup.
  2. Pemeriksaan harus memberikan kesempatan seluas-Iuasnya kepada anggota yang diperiksa untuk melakukan pembelaan diri.
  3. Pembelaan dapat dilakukan sendiri atau didampingi oleh seorang atau lebih dari anggota yang ditunjuk oleh yang bersangkutan atau yang ditunjuk organisasi.
  4. Hasil Pemeriksaan dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan yang ditandatangani oleh semua anggota Komisi Kehormatan Profesi Hakim dan yang diperiksa.

Keputusan

Pasal 11

Keputusan diambil sesuai dengan tata cara pengambilan putusan dalam Majelis Hakim.

Sumber : Suhrawardi K. Lubis, 2006. Etika Profesi Hukum.

Penerbit Sinar Grafika : Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s