Contoh Kasus Perlindungan Konsumen dan Analisisnya

Ditariknya obat nyamuk Hit yang dianggap berbahaya bagi kesehatan, tentu disambut dengan kelegaan. Lantas bagaimana memilih obat nyamuk aman dan nyaman.

Penarikan dan pemusnahan obat nyamuk HIT 2,1A dan HIT 17L yang mengandung pestisida berbahaya (zat kimia diklorvos yang berefek samping kanker hati dan lambung), akan berdampak tidak baik untuk konsumen. Demikian disampaikan Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Huzna Zahir. Kendati demikian, YLKI sangat menyesalkan mengapa baru sekarang dilakukan tindakan seperti itu.

Menurut Huzna, sejak sekitar tahun 2004 Komisi Pestisida dari Departemen Pertanian telah mengumumkan informasi tentang pestisida yang tidak boleh digunakan untuk produk-produk rumah tangga. “Dengan adanya pengumuman itu, seharusnya sejak awal para instansi terkait bisa mengambil tindakan. Misalnya di bagian pengawasan ataupun perizinan edar, mereka seharusnya sudah bisa melihat dan melarang produk-produk apa yang memakai pestisida,” paparnya.

Jika ternyata benar bahwa tahun 2003 Departemen Pertanian telah melayangkan surat teguran kepada PT Megasari Makmur (produsen obat nyamuk HIT), seharusnya produsen bisa dikenakan sanksi atau pencabutan izin produksi. “Produsen yang memproduksi barang tidak sesuai standar bisa dikenakan sanksi seperti yang tertera pada UU Perlindungan Konsumen, yaitu pidana maksimal 5 tahun atau denda maksimal Rp 2 miliar.”

YLKI sendiri pada tahun 1999 sempat melakukan survei label terhadap beberapa merek obat nyamuk. Dari sekian banyak yang diuji, HIT berjenis semprot dan cair memang sudah mengandung bahan aktif diklorovos. Menurut WHO Diklorovos termasuk kelompok racun yang paling tinggi. Akan tetapi, saat itu memang belum ada pengumuman dari pemerintah untuk melarang penggunaan bahan-bahan tersebut dalam kadar tertentu.

Huzna menilai, kasus ini bisa menjadi satu peluang untuk instansi pemerintah terkait mengevaluasi kembali obat-obat nyamuk yang beredar di masyarakat. “Kita menyarankan, jangan sampai menunggu konsumen protes, komplain atau menuntut.”

Selain itu, Huzna menyarankan kepada para konsumen agar lebih berhati-hati dalam menggunakan barang-barang yang mengandung bahan kimia, membaca label dan cara pakai produk tersebut dengan seksama, serta lebih kritis menanggapi iklan.

“Iklan-iklan yang ditayangkan di televisi tentang barang-barang rumah tangga yang mengandung bahan kimia, seperti obat nyamuk misalnya, sangat menyesatkan. Seolah-oleh menunjukkan bahwa obat nyamuk adalah bahan yang tak perlu diwaspadai dan bisa disemprot sembarangan,” tuturnya lagi.

Soal pestisida ini dijelaskan oleh Prof. DR. Ir. Edhi Martono, M.Sc, dosen Toksikologi Pestisida Fakultas Pertanian UGM, Yogyakarta. “Pestisida ini, awalnya lebih banyak digunakan untuk keperluan pertanian. Oleh karena di masyarakat dan rumah tangga juga ada gangguan-gangguan yang disebabkan berbagai serangga (kecoa, lalat, nyamuk), pestisida (bahan pembunuh hama) dipergunakan juga di lingkungan rumah tangga dan pemukiman. Padahal untuk membunuh serangga seharusnya menggunakan insektisida,” jelas Edhi.

Menurut Edhi, berhubung digunakan di lingkungan pemukiman dan rumah tangga, seharusnya daya racun yang dimilikinya harus berbeda antara yang dipergunakan di bidang pertanian dan kepentingan rumah tangga. Masalahnya kalau berbeda, apakah efektif untuk dipakai membunuh nyamuk. “Harus dicari yang daya bunuhnya bagus tetapi tidak berbahaya buat manusia. Ada, kok, beberapa jenis bahan yang aman. “

Akhirnya, lanjut Wakil Direktur Bidang Akademik Sekolah Pasca Sarjana UGM ini, “Para peneliti melakukan penelitian dan memperoleh bahan-bahan dari tumbuh-tumbuhan yang bersifat seperti itu. Misalnya bunga sukun yang dibakar, daun sereh dan sebagainya yang khasiatnya sudah dbuktikan oleh nenek moyang kita.”

Edhi mengungkapkan, dalam penggunaan obat nyamuk, yang kita inginkan sebenarnya apakah membunuh sasaran atau mengusirnya saja? “Itu dua hal yang berbeda. Mengusir (nyamuk) juga menyebabkan kita aman dari serangan mereka. Membunuh itu jelas, tapi justru bisa mengurangi jazad dan populasi yang nanti keseimbangannya jadi macam-macam. Sekarang orang sudah peduli lingkungan dan ekologi.”

Maka itu, menurut Edhi, pendekatan yang perlu dilakukan adalah dengan repelain atau mengusir saja. Ini bisa diperoleh dari obat nyamuk bakar. “Yang disemprotkan juga ada. Cuma, kalau di iklan kemudian dikatakan mampu membunuh, itu enggak ada. Obat nyamuk paling banter mengusir. Nyamuk pergi karena tidak suka aromanya.”

Di Jepang, kata Edhi, orang lebih suka mengusir nyamuk dengan semacam hio yang diberi aroma macam-macam yang asalnya dari tumbuh-tumbuhan. Aroma ini sesungguhnya lebih sehat untuk manusia. Sayang, kesadaran masyarakat Indonesia belum ada yang mau seperti itu. Mereka justru memberi label kuno dan tidak modern.”

 

analisis :

seharusnya masyarakat tidak harus mudah tertarik atau terbujuk dengan iklan dan promosi, serta teliti dan lebih kritis dalam membeli sebuah produk yang akan digunakan dengan memilih barang yang bermutu dan berstandar yang memenuhi aspek keamanan, keselamatan,kenyamanan dan kesehatan. sehingga dapat meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemandirian konsumen untuk melindung diri. dan juga dapat meningkatkan kualitas barang dan atau jasa yang menjamin kelangsungan usaha, produksi barang dan atau jasa, kesehatan, kenyamanan, keamanan, dan keselamatan konsumen.

 

sumber :

http://nostalgia.tabloidnova.com/articles.asp?id=11807

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s